SNAPSHOT ARTIKEL HUKUM BISNIS SACO AGUNGSS

6 Februari 2014

PEMBERDAYAAN MODAL PENDANAAN PERUSAHAAN TAMBANG MINYAK GAS INDONESIA

Filed under: Uncategorized — agungssuleiman @ 2:17 am
Tags:

PEMBERDAYAAN  MODAL PENDANAAN   PERUSAHAAN    PERTAMBANGAN UMUM – MINYAK  GAS

Sebelum kita membicarakan lebih jauh terkait Topik PEMBERDAYAAN MODAL PENDANAAN Perusahaan MINYAK GAS / Tambang Indonesia kita Harus  BERANI SECARA JUJUR menjawab  Pertanyaan DASAR :

APAKAH  CITA CITA DARI PERUSAHAAN MINYAK GAS/ TAMBANG INDONESIA:

Apakah  kita  hanya mau menjadi   “BROKER”  saja ?

·      Apa kita hanya  berniat hendak memiliki  Lisensi untuk selanjutnya Menjadi Calo atau Broker ?

·         Ataukah  Mau Menjadi pemain Handal dalam Dunia  Pertambangan  Umum di Indonesia ?

Pertanyaan ini sangat penting dan mendasar karena akan menjadi titik tolak untuk menentukan apakah Perusahaan Lokal  memang bermaksud untuk dapat menjadi pemain Minyak GAS / TAMBANG    yang disegani di Dunia Tambang/Minyak  yang secara tidak langsung juga ditujukan baik untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang bagaimana meningkatkan  kesejahteraan dari masyarakat Indonesia umumnya termasuk masyarakat dilokasi penambangan BAHAN GALIAN TAMBANG maupung Hidro Carbon Minyak dan Gas dilakukan yang tidak lepas dari amanat Pasal 33 ( 3) UUD 45. 

Salah satu hal penting yang perlu kita camkan adalah bahwa Bahan Tambang/Minyak-Gas berasal dari Bumi yang satu, dimana  umat manusia menempati nya.

  • Hydro Carbon Gas dan Minyak menurut ahli Geologi proses pembentukannya adalah selama 350 Juta Tahun melalui tekanan yang tinggi,  karena sangat dalamnya letak Cadangan Reservoirnya maupun sangat Panas temperaturnya, dimana asal Bahan Dasarnya adalah Plankton baik dari  Manusia, maupun berbagai spesis Binatang yang telah menjadi Fosil …yang merupakan proses pembentukan yang maha hebat dimana sebagai Orang yang berusaha untuk beriman kepada Kitab Suci yang diturunkan ALLAH, Penulis tidak akan lupa bersyukur kepada ALLAH Yang Maha Kuasa.      

IMBung Karno SihanokAdapun berbagai Bahan Galian Tambang yang keras seperti Emas, Tembaga, Nikel, Timah, Bauksit, Aluminium, Besi juga banyak tersedia di Lapisan Lempengan bawah Bumi yang kita tempati, dimana Kepulauan Khatulistiwa Indonesia yang terdiri dari beberapa Ribu Pulau kecil dan Beberapa Pulau Besar terletak di Sabuk Api atau gunung berapi, dimana prosesnya ter-Konsentrasinya misalnya dari Tembaga dan Emas yang terkumpul di Grassberg,  tempat penambangan tembaga dan Emas di Papua, lokasi Penamgangan             PT Freeport  Indonesia yang ketinggiannya mencapai  4.000 Meter (empat ribu meter) diatas permukaan laut bisa kita temukan Fosil Keong di Grasberg,

  • Menurut hemat Penulis bukanlah merupakan suatu kebetulan bahwa dibelahan bumi Indonesia kita tinggali bersama ini,  Bangsa Indonesia oleh ALLAH Yang Maha PENCIPTA, MAHA KUASA dan MAHA KAYA, telah dikarunia berbagai kekayaan bahan galian (Natural Resources), dimana tergantung dari Bangsa Indonesia khususnya Para Ahli Teknokratnya dari berbagai Disiplin Ilmu menjadikan BAHAN DASAR Kekayaan Bahan Tambang Galian dan Hidro Carbon  Minyak/Gas untuk dikelola  guna dapat memberikan peningkatan kesejahteraan kwalitas hidup mereka baik secara kwalitatif mauun kwantitatif.

Kita haruslah mencamkan bahwa Bumi atau Bahasa  Arab di AL Quran AL ARD yang dijplak oleh Inggris menjadi The Earth bersifat sementara atau Fana, sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Yang Maha Pencipta Kehidupan ini, begitu juga para penghuninya, dimana ada batas umur mereka berada didunia ini.

Ini harus benar2 kita camkan agar kita, siapapun kita,  tidak menjadi pemain Minyak/Gas -Tambang atau institusi yang “serakah dan rakus” yang seringkali mengabaikan tata krama yang terefleksi dari para pemain yang seringkali sangat sembromo dan sembarangan didalam mengambil bahan tambang /Minyak/Gas tanpa mengabaikan kelanjutnya dan kesinambungan dari keadaan alam dimana kekayaan tambang alam yang dikarunia ALLAH itu telah diberikan kesempatan kepada Pemain Tambang itu untuk meraih penghasilan, keuntungan.

  • Kita haruslah senantiasa Bersyukur kepada ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya yang menciptakan dan memiliki seluruh langit dan bumi dan segala  sesuatu diantara kedua langit dan bumi tersebut atas Karunia Kekayaan Alama diatas dengan cara mengelolanya untuk meningkatkan kesejahteraan Masayarakat Indonesia.

Penulis  pernah selama 5 (lima) tahun tahun 1993 hingga tahun 1998 menjadi In – House Legal Counsel di perusahaan Tambang Tembaga dan Emas yang dipercaya oleh Pemerintah dan DPR melalui Kontrak Karya atau COW pada tahun 1967,  untuk melakukan penambangan atas  suatu wilayah  Tambang Tembaga dan Emas yanAGUNG DI MINYAKg mempunyai  Reservoir dan Deposit tersebar didunia dan juga pernah selama 5 (lima) tahun  bekerja sebagai Inhouse Legal Counsel Di Vico ( Huffco) Indonesia perusahaan USA yang dipercaya oleh Pemerintah dan DPR untuk, melakukan kegiatan penambangan Minyak dan Gas di Kalimantan Timur, yang produk akhirnya adalah LNG yang dieskpor ke Jepang.

·  Pada tahun 1967,  PT Freeport Indonesia telah mendandatangani Perjanjian Kontrak Karya dengan Pemerintah Indonesia,  yang tentunya sudah dikonsultasikan dengan MPRS  dan merupakan wujud pelaksanaan dari Undang-Undang Penaman Modal No.1/Tahun 1967  dimana Undang-undang Penanaman Modal ini lahir dari Amanah Putusan MPRS tahun 1996 No.XXIII/MPRS/1996 terkait dengan dibutuhkannya untuk segera dikeluarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing pada saat itu,  mengingat keadaan krisis ekonomi  malah mendekati kebangkrutan sebagaiman tertera dalam isi Putusan MPRS tahun 1996 No.XXIII/MPRS /1996, dimana disebutkan bahwa Modal Dalam Negeri masih terbatas sehingga sangat mendesak untuk dibuatkan Payung Hukum Undang Undang Penaman Modal Asing yang melahirkan Undang-Undang Penaman Modal No.1/Tahun 1967 tersebut;

  •        Sebagaimana kita ketahui Kontrak Karya tersebut adalah Kontrak Karya Pertama di Indonesia yang memberikan dasar hukum yang syah untuk melakukan kegiatan Penambangan Bahan galian Tembaga dan Emas oleh suatu Perusahaan Asing PT PMA yang dalam hal ini adalah Freeport  Indonesia dimana didalam Kontrak Karya tersebut disebutkan Hak untuk melakukan Penambangan Penyelidikan Umum, Explorasi, Explolitasi, Konstruksi hingga Produksi dan Penjualan di Wialayah Kuasa Pertambangan yang tertera didalam Kontrak Karya tersebut yaitu didaerah  Irian Jaya yang kini disebut Papua sesuai dengan COW yang ditanda tangani Tahun 1967 oleh Pemerintah Indonesia dan PT Freeport Indonesia, setelah dikonsultasikan dengan MPRS saat itu.
  • Kekayaan Bahan Tambang Tembaga dan Emas ini dari sudut kacamata orang yang mempunyai latar belakang religius tentunya  adalah se-mata2 karunia dari ALLAH Yang Maha Penguasa sebagai Pencipta satu2 nya dari Bumi yang kita tinggali ini.

Karena Penulis makalah adalah terlibat langsung  sebagai In – House Legal Counsel di PT Freeport Indonesia ini selama 5 tahun dari tahun 1993 hingga tahun 1998, maka  PENULIS bersyukur kepada ALLAH telah diberikan kesempatan untuk mengetahui struktur penggalangan Dana yang dilakukan oleh suatu Perusahaan Swasta dari Amerika Serikat, yang dimiliki oleh Mc. Moffet, yang kemudian membentuk perusahaan FX Freeport Mc.Moran yang dilisted di Stock Exchange New York di Amerika, dimana jumlah saham dari Mc. Moffet dalam Fx. Freeport Mc.Moran  berjumlah minoritas saja, dan jumlah Saham yang diperoleh Public melalui Bursa Stock Exchange lebih besar. Beginilah cara Investor dan Pengusaha dari USA dapat menggalang Dana dari Bursa Saham,   guna mendapatkan dana untuk dapat mengelola dan menambang BAHAN Galian Tembaga dan Emas ini, dimana Penulis perlu menselidiki  lebih jauh apakah dapat diperolehnya Dana dari Bursa Saham tersebut sudah  mulai dari tahapan Explorasi ataukah sudah dalam Tahapan Produksi.

  • Tentunya yang paling berperan pertama untuk dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh calon  Investornya adalah Mc. Moffet melalui para Penasehat Ahli dari Perusahaan Securitas, yang kemudian diramu menjadi suatu Prospektus – atau Sajian Data Prospect dari Perusahaan PT Freeport Indonesia yang telah menandatangani Perjanjian Kontrak Karya Tahun 1997 dengan Pemerintah Indonesia. Proopektus inilah yang dibuat berdasarkan adanya Study Geologis dan Reservoir yang dibuat oleh suatu Perusahaan yang mempunyai Izin membuat dan mengeluarkan Hasil Study Geologis dan Reservoir tersebut yang diakui dan telah terdaftar di Bursa Saham Stock Exchange di New York.bg_ag

Dari hasil studi para Geology tersebutlah pada awalnya mereka menentukan untuk melaksanakan kegiatan penambangan  tersebut;

Hal ini sudah umum dilakukan didunia Pertambangan dimana  dari hasil Study Kandungan Reservoir dan Bahan galian ini dapat dibuat Prospectus untuk menggalang Dana baik dari Publik di Stock Exchange New York  maupun kepada Bankers – dari  Syndication Loan.

  • Sebagaimana kita ketahui didunia Pertambangan penggalangan Dana ini bisa dilakukan dengan mengumpulkan dana sendiri dari beberapa Investor  yang sudah mempunyai mempunyai modal awal untuk dapat melakukan Study Geologies maupun Study Kelayakan,  kemudian melaksanakan tahapan Pra Operasi yaitu melakukan Study Kandungan, Penyiapan Hasil Study, Biaya untuk mendapatkan sample batuan untuk diuji dan dipelajari kandungan yang ada dalam wilayah lahan yang diminati,  yang kemudian dikombinasikan dengan Pengalangan dana dari Bursa Saham atau dari Bank.

Hal ini dilakukan oleh Investor dalam tahapan masih Explorasi dimana belum sama sekali ada cash in  penjualan

Setelah pendanaan diperoleh dari BURSA Saham dan PERBANKAN dipenuhi  dan terbatas, dan tidak mencukupi untuk target pemasukan yang diinginkan, maka timbullah masa untuk “Privatisasi” atau Penjualan  dari semua Infrastruktur Telekomunikasi, Kapal terbang dengan fasilitas lapangan terbang yang telah dijual kepada PT Airfast, kapal laut dengan fasilitas perkapalan, laut telah dijual kepada D’Loyd)mapun pasar telah dijual kepada PT Pasa Raya Sarinah melalui “Privatisasi”, dan Peralatan Telekomunikasi kepada PT Telkom Indonesia sebagai Perusahaan yang membidangi kegiatan2 tersebut, sehingga PT Freeport Indonesia “dapat Konsentrasi dan Fokus”  pada bidang penambangan tembaga dan emas, dengan memperolah dana dari HASIL  PENJUALAN Insfrastruktur melalui Program Privatisasi tersebut.   Para Pengusaha telah membeli asset Infastruktur tersebut tersebut diatas melalui Pinjaman dari Bank,  dimana “Jaminan dari Pinjaman tersebut” adalah “Asset Infrastruktur yang diprivatisasi serta pemasukan income para Investor tersebut yang memberikan jasa atau penyewaan kepada PT Freeport atas infrastruktur yang dijual melalui  Program Privatisasi tersebut.

  • Hal ini juga  Penulis alami sewaktu membantu Perusahaan Noble Coal yang merupakan trader dari Batubara untuk keperluan Pembeli yang membutuhkan batubara untuk Pembangkit Tenaga listrik baik di jepang dan Cina;

Dalam pengalaman diatas, jika ada tambang batubara yang membutuhkan perbaikan Jetty maupun Coal  Plant  untuk dapat melakukan proses penjualan Batubara kepada Klien kami Noble, maka dipersiapkan semua financing Engineering, dimana PENULIS terlibat membuat dan mendraft Prepayment Agreement serta Loan Agreement dari Noble kepada suat  PT Indonesia yang memiliki Lahan Tambang batubara tersebut dengan mendapatkan dana dimana sebagai pembayaran adalah produk Tambang tersebut dengan beberapa pengapalan atau Shipment dimana sebagai Jaminannya adalah  Fasilitas Coal Plant maupun Heavy Equipment dengan Jaminan Fidusia.

  • Penulis juga mempunyai pengalaman lain dengan suatu Group, yang melakukan penjualan Batubara kepada pembeli dimana biasanya Pembeli minta Trial Shipment dengan kesepakatan harga tertentu sesuai  dengan specIMG_1588ifikasi dari Bahan Galian batubara baik mengenai Persentage Kalori, atau persentage kadar sulfur, kadar air Water contentnya dan ada hak reject jika berada dibatas angka yang telah disepakati bersama; Hal yang sangat menarik untuk menjadi pelajaran yang dapat diambil  adalah bahwa pada saat kapal pengangkut sudah tiba ternyata ada persyaratan adminstrasi tertentu  yang tidak dapat dipenuhi oleh salah satu Supplier Batubara kepada Bank untuk mendapatkan LC sehingga mengikakibatkan terganggunya komtiment jumlah metrik ton kepada Pembeli, dimana pada akhirnya setelah melalui beberapa perundingan diputuskan bahwa Pembeli akan mengangkut semua batubara yang dapat disediakan oleh Penjual  meskipun sudah dibelnding kalori dan berada dibawah batas rejection;IMG00209-20120429-1536

Penjual lantas mengapalkan Batu bara tersebut keatas kapal namun dengan belum disepakati harga penjualan, maupun siapa yang akan menanggung dead rent dan demurage yang dikenakan oleh Carrier dari Batubara tersebut.

  • Nah, masalah mitigasi risiko menjadi faktor yang juga perlu diperhatikan oleh Para Penjual dari batubara karena selaian Penjula dan pembeli ternyata ada faktor pengenaan dead rent dan demurage yang perlu diperhatikan yang akan dikenakan oleh Kapal Carrier atas Produk Bahan Galian Batubara tersebut.

Pengalaman yang juga tidak kalah menariknya  yang dialami oleh Penulis adalah adanya suatu Perusahaan Indonesia yang hendak mengadakan perjanjian aliansi dengan Perusahaan Asing, dimana Jumlah Pendanaan yang diperoleh Perusahaan Asing melalui Bursa saham di Canada dan Australia, dijadikan dasar bagi Perusahaan asing untuk meminta diperolehnya Equity atas saham dalam PT yang memegang Lisensi IUP, namun dikawatirkan dapat terdilusi jika dalam perkembangannyaimage005 pihak Perusahaan Indonesia Lokal tidak dapat memenuhi cash call untuk Biaya ongkos Explorasi,  karena nampaknya dalam perjanjian Aliansi tersebut Pihak asing telah memberikan  angka Patokan, bahwa jika sudah malampaui angka tertentu dari  Funding  yang sudah diberikan untuk kegiatan  Tahapan Explorasi, maka Pihak Lokal Indonesia juga harus menyuntik dana cash call untuk membiaya Biaya Explorasi tersebut.

  • Tentunya hal ini dikwawatirkan oleh Investor Lokal karena dimasa Explorasi tentunya belum ada cash ini,  sehingga Perusahaan lokal harus mencari sumber dana lain selain dari Perusahaan Asing yang diajak beraliansi tersebut, dengan kekhawatirkan bahwa secara “KORPORASI AKAN  TERDILUSI” sebagai Pemegang Saham padahal tahapannya masih Explorasi,  dan tentunya IUP yang dipegang oleh PT Indonesia tersebut akan dapat dikuasai seluruhnya oleh Pihak Asing dimana dananya untuk  “inbreng” memperoleh Equity pada PT pemegang IUP  didapatkan dari Dana yang digalang oleh Perusahaan Asing dari Bursa diluar Negeri baik dari Canada dan Australia.

Issuenya menjadi bagaimana agar pemain Lokal yang memliki IUP tidak terdisulusi dengan keterbatasan dana yang dipunyai.  Klien Penulis menghendaki bahwa sebagai Imbalan mendapatkan dana tersebut Pemegang Asing hanyalah terbatas kepada memperoleh  Hak Produk dari Bahan Galian Tambang tersebut dan bukan Equity.

  • Berdasarkan pengalaman  diatas yang merupakan beberapa contoh  dari  pengalaman yang dihadapai oleh Pemain Penambang Bahan galian di Indonesia, maka sudah saatnya dialam Demokrasi ini, kita perlu memikirkan suatu Map Road yang jelas dan terukur mau kemana Pengelolaan kekayaan Bahan Galian Indonesia akan dilakukan dilanjutkan bagi masa depan kesehteraan Rakyat Indonesia umumnya termasuk masyarakat dimana Kandungan bahan Galian itu berada. Untuk menjawab tantangan tersebutlah Penulis melalui Kolaborasi 

                           SACO  LAW  FIRM   

    mempunyai ILUSI untuk menyelenggarakan Worlshop Seminar Menuju PEMBERDAYAAN  KEBANGKITAN   PERUSAHAAN MINYAK GAS/  TAMBANG INDONESIA

Kendala  yang  seringkali   dialami oleh Perusahaan Lokal Indonesia adalah  masalah 

Pendanaan –Pembiayaan- Dimana sumbernya   yang secara Universal  di peroleh adalah :

  • ·         Dari Investor
  • ·         Dari Bank
  • ·         Dari Bursa Saham

 

DUKUNGAN  KEBIJAKAN

Dukungan Pemerintah maupun DPR  pada saat ini bagaimana ?

DUKUNGAN  PERATURAN  REGULASI

Bagaimana dengan Aturan dan ketentuan yang ada :

Dari Level  Undang- Undang hingga Peraturan Pelaksanaan Pusat dan Daerah ?

Apa   Yang Indonesia  belum  Punya, namun  Pemain Tambang   Asing Punya ?

Kalau Pendanaan : 

Dalam Tahanapan Explorasi :

·         Ternyata Perusahaan Asing berdasarkan Data Kandungan Deposit dapat menggalang dana lewat Bursa /Stock Exchange . meskipun masih Tahapan Explorasi :

Di Canada  ( Toronto) dan  Australia

Hasil dana dari Bursa Saham ternyata dijadikan Alasan untuk : Inbreng Investor Asing  untuk mendapatakan Share Bagian Equity  di PT Pemegang IUP

Bagaimana dengan Bursa di Indonesia ?  

DUKUNGAN PERATURAN BURSA :

Apakah ada Pengaturan Undang –Undang yang mendukung agar perusahaan PT Indonesia Pemegang IUP Explorasi bisa mendapatkan dana dari Bursa

Bagaimana dengan Pembiayaan Bank di Indonesia ?

Apakah Bank BUMN Indonesia bersedia memberikan dana kepada Perusahaan Tambang yang masih dalam Tahapan Explorasi ?

Apakah Undang-Undang Minerba telah memberikan dukungan Pembiayaan kepada Pemain Lokal yang masih dalam Tahapan Explorasi ?

Apakah Risiko2 yang akan dihadapi Bank dalam Tahapan Explorasi ?

Klasifikasi apa saja atas Kandungan Deposit Resevoir Tambang  yang dapat diberikan untuk Mitigasi Risiko  Pendanaan Baik Bagi Investor, Bursa Saham maupun Perbankan dalam Tahapan Explorasi ?

Kalau ada Pendanaan dari Investor , Perbankan Atau Bursa Saham :

Jaminan apa saja yang dapat diberikan oleh Perusahaan Indonesia Pemilik IUP Explorasi  kepada Pemberi Dana :

Apakah Peralatan atau Asetnya dapat diJadikan Jaminan :

Apakah  Hasil Tambang dapat dijadikan Jaminan ?

Bagaimana pula dengan Lisensinya ?

Baigaimana dengan Saham dari PT nya dari Pemegang IUP apakah dapat dijadikan  Jaminan atas penerimaan Dana :

Bagaimana Jika ternyata Tidak ada Hasil Prodeuksi  Tambang yang Tidak Komersial  ?

RISIKO  “DANA TENGGELAM”

SINGKING FUND

Siapakah yang harus menanggung Risikonya atas Dana Yang Tenggelam ? Baik, dalam Tahapan Penyelidikan Umum, Explorasi , Exploitasi  sampai ke Produksi, Penjualan  ?

  • Bank Akan melihat siapa Peminjam Uang ?
  • Siapa Yang Mengoperasi Kegiatan Penambangan ?
  • Siapa  Pengurus  Managemen   : Ini sangat Signifikan untuk Pemberi:

Pemberi Dana bisa  berbagai  macam :

Bisa Investor melalui Shareholder Loan ataupun Pembeli dengan Struktur  Transaksi  Prepayment

 Dimana Pembayaran adalah dengan Hasil Batubara melalui beberapa Pengapalan

Jaminannya Bisa  Coal Plant  dan  Heavy Equipment

·         KENDALA APA SAJA YANG DIHADAPI

 Perusahaan Tambang di Lapangan dari Mulai Tahan Explorasi Hingga Exploitasi Produksi:

Tumpang TINDIH LAHAN :

Dengan Kehutanan – Hutan Lindung, atau dengan kegiatan lain ..

Bagaimana dengan masalah  Pencemaran Lingkungan

Demikian beberapa butir-butir dan pemikiran signifikan yang hendak dilontarkan dalam Rencana Workshop diatas…..

Jakarta, 6 Februari 2014

Agung Supomo Suleiman

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

PELANGI

Pelangi menjadi salah satu bukti keagungan Tuhan YME..

Angwie on Blog

No one else...just you and me...

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

Un2kmU

semuanya hanya untukmu...

PELANGI

Pelangi menjadi salah satu bukti keagungan Tuhan YME..

Angwie on Blog

No one else...just you and me...

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

Un2kmU

semuanya hanya untukmu...

%d blogger menyukai ini: