SNAPSHOT ARTIKEL HUKUM BISNIS AgsS LAW – SACO AgungsS

9 Mei 2016

TERENYUH JAMINAN KEPASTIAN HUKUM – RASA KEADILAN BAGI INVESTOR

Kenapa Peserta Business Investor Asing didalam membuat Perjanjian Bisnis terkait melakukan operasional usaha bisnis di Indonesia,  segan untuk memilih hukum Indonesia maupun forum Pengadilan Di Indonesia ?

  • pic3Penulis selama bekerja sebagai Independent Business Lawyer di Indonesia lebih dari 32 Tahun, seringkali terasa “TERENYUH”   terkait  JAMINAN KEPASTIAN HUKUM – RASA KEADILAN  yang menyebabkan masalah bagi para  Independent Business Lawyer didalam melakukan pilihan atas      :

(i) “Pemilihan Hukum” dari Perjanjian Bisnis yang dilaksanakan oleh Pihak Asing dengan Investor Indonesia di  Indonesia,  maupun

(ii) “Pemilihan atas Forum Pengadilan” di Indonesia,

didalam menyusun dan bernegosiasi suatu Perjanjian Transaksi Bisnis yang melibatkan Para Pihak yang membuatnya khususnya jika adanya Investor Asing yang hendak melakukan Bisnis di Indonesia.

Terkesan kuat bagi “kalangan Investor” yang melakukan usaha bisnis di Indonesia,  adanya  Faktor Iklim “Legal Uncertainty”  atau “Tidak Adanya Jaminan Kepastian Hukum”, sehingga berakibat merugikan kebanggaan atau “berkurangnya wibawa” bagi Investor Indonesia termasuk semua kalangan stackholder Indonesia yang terlibat didalam melakukan negosiasi pembuatan Perjanjian Bisnis dimaksud dengan pihak kalangan Investor asing dan semua elemen asing yang terlibat dalam perundingan tersebut. .

Pertanyaan Mendasar bagi  kita adalah Kenapa dan Salah Siapa hal Signifikan ini senantiasa terjadi yang seolah-olah tidak ada pemecahannya dan penyelesaiannya ?

JAWABAN Mendasarnya adalah :

Hal ini adalah disebabkan kita sendiri,  sebagai Bangsa yang katanya berlandaskan “Hukum” dan beradab, namun  seringkali dalam “fakta kenyataan praktik kehidupan sehari-hari”, tidak memberikan “contoh” maupun “kesan yang baik” untuk Taat pada hukum  maupun terindikasi adanya permasalahan penanganan penyelesaian kasus di Pengadilan, yang berakibat  seringkali dirasakan oleh Para Pencari Keadilan di Indonesia  :

Jauh dari Rasa Memberikan “Jaminan Kepastian Mendapatkan Keadilan,  dalam hal terjadi sengketa atas pelaksanaan Perjanjian Bisnis, diantara  Para Pihak yang membuat dan mendatangani Perjanjian Transaksi Business, untuk melakukan  business di Indonesia. 

Jikalau Pihaknya adalah Pemerintah Indonesia atau Wakil dari Negara seperti di dunia Perminyakan dalam Perjanjian Bagi Hasil (Production Sharing Contract), maka pemilihan “Hukum Indonesia” adalah merupakan keharusan, karena Pemerintah secara “kekuatan Politik” mempunyai kedudukan yang “Kuat” dan disegani oleh Para Investor Asing, yang membutuhkan Blok Migas di Indonesia untuk diexplorasi, expolitasi, diproduksi dan atas dasar suatu Perjanjian Bagi Hasil atas Perjanjian Kerjasama lainnya

  • image005Begitu juga di dunia bisnis Pertambangan seperti Pertambangan Emas dan Tembaga, hukum yang dipilih didalam Perjanjian Kontrak Karya (Kontrak Karya)  adalah juga Hukum Indonesia, dengan alasan yang sama seperti diatas. 

Namun,  jika Pihak Kontraktor  Asing atau Kontraktor Indonesia mengadakan Perjanjian turunannya,  seperti Perjanjian Joint Operating Agreement (“JOA”) dengan pihak ketiga, dimana Pemerintah Indonesia atau Pihak yang Mewakili Pemerintah Indonesia tidak terlibat, maka Hukum yang dipilih biasanya adalah Hukum Negara dari Investor Asing itu berasal atau Hukum suatu Negara yang dirasakan lebih dapat memberikan Kepastian Hukum bagi Investor Asing tersebut, yang hendak “Melakukan Investasi” di Indonesia.

Bahkan Pihak Perusahaan Indonesia yang besarpun,  jika mengadakan Perjanjian Penjualan sebagian dari Participant Interest (atau Working Interest) atas Production Sharing Contract maupun  Joint Operating Agreement (JOA) dengan sesama Perusahaan Indonesia, yang membutuhkan adanya Investor Indonesia yang besar untuk penyertaan Modal /Dana maupun peserta Participant Interest, akan meminta Hukum Asing yang berlaku atas Perjanjian tersebut, dengan alasan “adanya  kekhawatiran”, bahwa jika nantinya ada Investor Asing yang diundang, karena dibutuh bantuan Dana untuk turut serta melakukan usaha terkait, maka Nilai Perjanjiannya JOA nya akan dianggap, dapat “Menurunkan Nilai Investasi”, jika hendak mengakuisisi, karena Hukum Indonesia yang dipilih atas Perjanjian Penjualan / Sales Purchase Agreementnya (SPA) atau Farm-In dianggap tidak memberikan “Kepastian Hukum”.

Begitu juga, biasanya Para Investor Asing tidak mau Forum untuk menangani Sengketa yang sekiranya timbul dari pelaksanaan Perjanjian Business diselesaikan lewat Pengadilan di Indonesia dan lebih memilih Arbitrasi, dimana kita sebagai Independent Business Lawyer, harus “berjuang keras” untuk meyakinkan agar Arbitrasi yang digunakan untuk menyelesaikan sengketanya adalah BANI (Badan Arbitrasi Nasional Indonesia), dimana Investor Asing cenderung untuk lebih memilih Forum Arbitrasinya di Singapura, karena kesan dari Investor Asing nahwa Arbitrasi di Singapura bisa memberikan Jaminan Kepastian Putusan Yang Adil bagi Para Pihak yang bersengketa, dimana karena Klien kita butuh penyertaan dana /modal dari Pihak Asing, merekalah yang lebih kuat didalam penentuan Forum Penyelesaian Sengketa tersebut, karena mereka yang telah menanamkan Dana/Investasi tambahan tersebut.   

Pemerintah Indonesiapun dalam PSC di Perminyakan maupun COW dalam Pertambangan harus tunduk kepada Investor Asing didalam Pemilihan Forum Arbitrasi di Luar Indonesia, karena alasan ” Faktor Risiko” ketidak Pastian Mendapatkan Keadilan” atas Suntikan Modal Investasi Asingnya di Indonesia jika terjadi sengketa dalam Pelaksanaan Perjanjian PSC maupun COW.      

Pertanyaan Mendasar Kembali Muncul : pic2

Kenapa persepsi dari Para Investor pada umumnya termasuk Inverstor Asing,  secara kenyataan fakta yang terjadi dilapangan dunia Bisnis di Indonesia adalah seperti diatas ?

Tentunya Jawabannya :

adalah “Salah Kita Sendiri” sebagai Bangsa Indonesia yang tidak berusaha untuk memberikanPesan dan Kesan Keseriusan Yang Kuat” didalam usaha “Memberikan Jaminan  Kepastian Hukum” maupun “Jaminan Keadilan” bagi Para Pihak khususnya Pelaksana Bisnis di Indonesia, yang membutuhkan Kepastian Hukum maupun Kepastian Memperoleh Keadilan dalam hal terjadi sengketa dari hubungan transaksi bisnis mereka. 

Kesalahan dari Bangsa kita sendiri adalah meliputi secara Holostic : Level Elit Eksekutif, Legislative,  Judikatif, semua Aparat Penegak Hukum di Indonesia baik di Pengadilan, Kepolisian, Kejaksaannya serta Para Lawyer, Pengusaha Indonesia,  yang tidak secara Serius berusaha secara Optimal Menyelenggarakan Hukum baik di dalam membuat Peraturan yang tidak tumpang tindih dan terkoordinir antara Lintas Departemen Teknis terkait maupun Sistim Pengadilan yang dapat Memberikan SInyal Pemberian Perolehan Kepastian Hukum Keadilan bagi Para Pihak Investor yang mengadakan Perjanjian Transaksi Business di Indonesia, sekiranya terjadi Sengketa diantara Para Pihak dalam pelaksanaan Perjanjian Bisnis tersebut.  

Kita dapat bayangkan Negara  Indonesia sudah merdeka selama lebih dari 7o Tahun, kalah didalam memberikan Rasa Kepastian Hukum dan Jaminan Keadilan bagi Para Investor Bisnis yang bersengketa atas pelaksaan Perjanjian Bisnis mereka di Indonesia, dibandingkan dengan Singapura yang baru lepas dari Koloni Inggris setelah Kemerdekan Indonesia.

Memang Perjuangan kearah perbaikan sistim pemberian Kepastian Hukum serta Pemberian Jaminan Kepastian Rasa Keadilan di Forum Pengadilan yang menangani Sengketa yang Muncul dari Pelaksanaan Transaksi Bisnis,  sudah banyak berusaha dilakukan oleh para pegiat Peduli Kepastian Hukum serta Jaminan Pemberian Keadilan,  namun hingga saat ini persepsi dari “Kalangan Bisnis” yang melakukan Usaha di Indonesia, masih terasa belum berubah jika menyangkut Kepastian Hukum – Pemilihan Hukum Yang Berlaku dan Forum yang dipilih oleh Para Pihak Bisnis dalam Perjanjian Pelaksanaan Bisnis di Indonesia.       

Jakarta, 9 Mei 2016

Agung Supomo Suleiman IMG_1588

Independent Business Lawyer

AGUNGSS BUSINESS LAWYER NOTE

Iklan

1 Maret 2016

Freelance Independent Business Lawyer

Yah dalam perjalanan hidup sebagai Profesi Independent Business Lawyer, nampaknya kalau dikaji dan diamati Penulis dalam melaksanakan praktek sebagai Independent Business Lawyer selama lebih dari 17 Tahun lebih semenjak 1 Juni 1998 memuju 18 Tahun, setelah semula bekerja sebagai Legal Consultant  di Law Firm ( 5 Tahun) dan In- House Legal Counsel di  Perusahaan Minyak Gas Huffco Indonesia – Vico Indonesia (5 Tahun) dan 2 tahun jadi Partner di suatu Law Firm  dan In- House Legal Counsel di Perusahaam Tembaga dan Emas PT Freeport Indonesia (5 Tahun)    adalah lebih tepat dan mendekati serta Trend – Kecenderungan mengarah sebagai “Freelance Independent Business Lawyer”, karena rasanya lebih nyaman dan flexible baik mengenai waktu dan tempat untuk melaksanakan Jasa Hukum kepada Klien yang membutuhkannya,  dimana yang paling penting  bagi kita FreeLance Independent Business Lawyer di Era Global IT  Komunikasi adalah  mempunyai peralatan Computer serta Email untuk bisa berkorespondensi, serta WA  dengan Klien,  karena pada kenyataannya Klien yang dilayani oleh Penulis  tertarik untuk mendapatkan hasil dari Jasa Konsultasi Hukum Bisnis misalnya antara lain berupa dibuatkan Perjanjian  Kerjasama Bisnis  yang dibutuhkan untuk mengakomodasi keperluan Bisnisnya,  khususnya untuk melindungi kepentingan aspek hukum  dari kegiatan bisnisnya.

  • Secara Ongkos Legal Fee juga lebih Flexible dan kompetetif wajar dibandingkan dengan menggunakan Law Firm.

Memang kalau kebetulan kita menyandang pendidikan Lawyer atau Pendidikan Hukum di Fakultas Hukum maka tergantung kepada kita gaya dan pilihan cara bagaimana yang paling dirasakan nyaman, menyenangkan serta pas bagi kita sebagai Professi Lawyer. Yang penting kita mempunyai Lisensi  Advokat misalnya Peradi ( Perhimpunan Advokat Indonesia);

  • Nah tentunya adalah pilihan dan juga rejeki serta garis tangan dari masing-masing Lawyer tersebut untuk memilih cara dan gaya hidup untuk mempraktekkan ilmu pengetahuan maupun pengalaman yang dilalui oleh Lawyer tersebut.

Bagi Penulis yang lebih senang tidak terikat dengan protokoler Jam Kerja yang ketat, lebih senang untuk menjatuhkan pilihan hidup untuk “lebih bebas dan flexible” baik tempat dan waktu untuk melakukan Praktik Pemberian Jasa Hukum yang umumnIMG00209-20120429-1536ya terlibat sebagai Freelance Independent Business Lawyer.

Yang penting pekerjaan Jasa Hukum yang dibutuhkan Klien bisa kita lakukan dengan tanggung jawab secara professional dan menjaga mutu pekerjaan yang baik dan berbobot. Adapun bagaimana dan dimana maupun cara kita sebagai Freelancer Independent Business Lawyer mengerjakan pekerjaan Jasa Hukum adalah sepenuhnya tergantung dari kita; 

  • Saat ini nampaknya banyak juga Lembaga yang mengkoordinasi para Freelance Lawyer ini baik secara Global maupun Regional dan Lokal yang bisa kita temukan di Website misalnya Freelance Lawyer Global..    

Freelancer ini bukan hanya untuk Lawyer tapi bisa bermacam profesi seperti kita bisa lihat dalam Freelancer di Indonesia

Kekurangan dari Freelance Independent Business Lawyer ialah :

  • tidak ada Jamninan penghasilan tetap disetiap akhir bulan, sehingga Penghasilan Legal Fee dari Klien harus diatur sedemikian rupa untuk bisa mencukupi kelangsungan hidup dari Freelance Lawyer tersebut.
  • Tidak ada asuransi Pegawai dimana Freelancer Lawyer tersebut harus mencari asuransi sendiri antara lain BPJS untuk di Indonesia .
  • Tidak ada Pensiun seperti yang dialami atau dinikmati oleh Pegawai di suatu Perusahaan yang tetap, sehingga Pensiun kita adalah akumulasi aset yang sudah dapat dikumpulkan dengan izin AL547130_4018003258398_132607727_nLAH. 

Keuntungan dari Freelance Independent Business Lawyer:

  • Kita adalah Boss kita sendiri ( “Self-Employed”)
  • Waktu kita untuk mau menjalankan Jasa Hukum kita adalah bebas ditentukan kita sendiri sebagai Freelance Lawyer tersebut.
  • Kita tidak terikat sebagai Pegawai Tetap yang harus berada terus di Ruangan Kerja dari pagi jam 8.00 pagi hingga jam 5.00 Sore
  • Kita bebas memilih Klien model dan bidang bisnis apa yang kita senang cari pengalaman atau geluti.

Nah Penulis sadar bahwa ternyata Penulis dengan mengamati perjalanan hidup sebagai Profesi Lawyer telah Cenderung menjadi Freelance Independent Business  Lawyer sendiri dengan membuka Blog ini sebagai media memperkenalkan diri Professi Penulis sebagai Freelance Independent Business Lawyer…dimana Penulis rasakan lebih pas dengan keinginan dan pilihan hidup dari Penulis yang semula telah merintis pengalaman dahulu sebagai Inhouse Legal Counsel selama beberapa tahun yang tidak lebih dari 5 Tahun disuatu tempat….memang semua ini adalah Pilihan Hidup ………bagi para Profesional …….

Jakarta 1 Maret 2016 – 2 Maret 2016

Agung Supomo Suleiman

Freelance Independent Business Lawyer 

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: