SNAPSHOT ARTIKEL HUKUM BISNIS AgsS LAW – SACO AgungsS

20 Juni 2018

MENGEVALUASI DIRI

Filed under: MENGEVALUASI DIRI,Muslim — agungssuleiman @ 7:51 am
Tags:

Kita sebagai penganut muslim yang berlandaskan kepada Kitab Suci Al Quran dan Hadist, bersyukur  bahwa saat memasuki 10 malam  terakhir Bulan Suci Ramadhan adalah  saat yang tepat untuk mengevaluasi diri.

Sebagai penganut Islam kita telah diberikan contoh oleh Rasul ALLAH yaitu Muhammad S.A.W.  bahwa  dalam 10 hari dan 10 Malam terakhir bulan suci Ramadhan setelah kita dengan izin ALLAH dapat  melaksanakan Ibadah Puasa selama 20 Hari di Bulan Suci Ramadhan sesuai Surat 2 AL Baqarah ayat 183, 184, 185, maka kita diwajibkan melanjutkan puasa sisa 10 hari terakhir dalam Bulan suci Ramadhan, dengan tambahan ibadah sunah  melaksanakan  itikaf, dimana istilah ber-i’tikaf ini tersebut dalam Surat Al Baqarah Surat 2 ayat 187 .

 

Kita dianjurkan untuk berniat melakukan i’tikaf, untuk mendekatkan diri kepada ALLAH dengan berdiam diri di Mesjid  dan mengasingkan diri dari hinggar bingarnya Dunia, khususnya  pada 10 hari dan 10 malam terakhir bulan Suci Ramadhan, dimana menurut para ustad, dan para ahli agama Islam,   di dalam I’itkaf  di Mesjid ini,   kita  dapat  melakukan kegiatan  mendekatkan diri kepada ALLAH dengan membaca  Kitab Suci Al Quran, disebabkan  ayat Kitab Suci Al Quran diturunkan oleh ALLAH melalui Malaikat Jibril kepada Rasul Muhammad S.A.W. pada bulan Suci Ramadhan;  Kita juga dapat melakukan sholat Qiyamul Lail, serta “muhasabah” atau “mengevaluasi diri kita” atau “Instropeksi Diri” terutama karena pada 10 Malam terakhir ada 1 malam Qadar yang nilainya lebih dari 1000 Bulan sesuai dengan Surat Qadar.

Bagi Umat Islam 10 Malam terakhir adalah penghulu atau intisari dari  seluruh jumlah hari dalam 12 bulan Hijrah, dimana dengan telah melakukan kewajiban Puasa atau menahan diri dari Makan dan Minum dimulai dari terlihatnya benang karena terkena sinar matahari hingga terbenamnya matahari selama 20 Hari,  maka kita mulai dari malam ke 21 hingga malam ke 29 atau 30  malam pada Bulan Ramadhan,  sebaiknya  mencontoh Nabi Muhammad S.A.W. dengan melaksanakan Iktikaf pada 10 malam hari di Mesjid dengan waktu yang disesuaikan dengan kekuatan dan kemampuan kita masing-masing,      

Karena kita sebagai manusia sama sekali tidak luput dari tindakan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak, maka kita haruslah menginstropeksi dan mengakui kesalahan yang telah kita buat serta memohon ampunan kepada ALLAH  atas segala kesalahan kita yang selama ini kita lakukan,  baik yang disengaja maupun kekhilafan kita.

Kita sebagai umat Islam, harus bersyukur, bahwa  ALLAH telah memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat kembali  bertemu Bulan Suci Ramadhan yang penuh Berkah, Rahmat dan Pengampunan dari ALLAH sesuai  Firman ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran serta Hadist Rasul, dimana kita sebagai orang yang Beriman diwajibkan untuk melaksanakan “Puasa” sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kita oleh ALLAH,  sesuai dengan Surat Al Baqarah- Kitab Suci Al Quran ayat 183, agar kita bertaqwa.  

Jika kita sering memaksakan diri kita untuk mau membaca Kitab Suci Al Quran, maka Insya ALLAH, dengan izin dan kehendak ALLAH, dan dengan memohon pertolongan ALLAH,  kita  ditanamkan oleh ALLAH  suatu  keyakinan dalam lubuk Qalbu kita yang terdalam :  bahwa Kitab Suci Al Quran, memang adalah merupakan Ayat Suci ALLAH yang Hak dan Benar yang  diturunkan oleh ALLAH dalam Bulan Suci Ramadhan pada Malam Lailatul Qadar, yaitu suatu malam Kemuliaan yang nilainya lebih daripada 1000 Bulan,  sesuai Firman ALLAH dalam Surat Qadr Surat 97 ayat 1 dari Kitab Suci Al Quran. 

Penulis sebagai Independent Business Lawyer merasakan bahwa dalam praktek dunia nyata seringkali salah satu pihak merasakan bahwa Pihak lain dikhawatirkan akan mengingkari janji, atau “Wanprestasi”,  begitu pula dalam pengalaman kehidupan kita sehari-hari kita merasakan seringkali terjadinya “rasa kehilangan Trust” atau “kepercayaan”  pada pihak lain,  dimana, pada akhirnya menimbulkan rasa kekecewaan salah satu pihak terhadap pihak lainnya,  dan merasakan tidak diperlakukan secara adil.

Nah terkait masalah keadilan pada fakta kenyataan didunia yang nyata, pengertian “Adil”  seringkali dirasakan “relatif”, tergantung dari sisi mana kita sedang berkedudukan dan memandangnya, apalagi jika dalam saling berkomunikasi, pada awalnya telah  dilandasi dari “rasa saling curiga mencurigai” diantara para pihak, baik hubungan bisnis maupun hubungan dalam masyarakat pada umumnya, berdasarkan pengalaman yang dialami para pihak dalam hubungan masyarakat.

Hal ini juga terjadi dalam hubungan antara Rakyat dengan para Pihak yang berkuasa baik dari DPR, Legislatif,  Eksekutif, maupun Instansi atau institusi yang berwenang baik di Swasta maupun Publik.

Maka guna dapat merenungkan secara jernih permasalahan yang kita hadapi, maka sebagai Penganut Muslim dalam Agama Islam, kita diberikan jalan keluar untuk sejenak melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia, dengan melaksanakan I’tikaf yaitu sejenak fokus dan berniat mengikuti contoh Rasul Muhammad S.A.W., berdiam diri dirumah ALLAH – BaituLLAH  yaitu Mesjid, untuk kembali mendekatkan diri hanya kepada ALLAH pada 10 malam terakhir di Bulan Suci Ramadhan ini setelah kita berusaha melaksanakan puasa 20 Hari yang dimulai I’Tikaf pada malam ke – 21, dengan waktu yang tergantung dari kekuatan kita masing-masing,  dengan niat ber- i’ tikaf hanya karena ALLAH sebagaimana dicontohkan oleh Rasul Muhammad S.A.W.

Mengingat ibadah Itikaf  diatas, adalah Contoh yang dilakukan oleh Rasul Muhammad S.A.W. maka jelas merupakan pedoman  yang sebaiknya kita lakukan dengan  keyakinan Keimanan yang harus kita bangun dan membentuknya, dengan senantiasa  berdoa dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada ALLAH S.W.T. untuk ditanamkan dalam Qalbu kita, dengan niat yang teguh untuk  berdiam diri sejenak di Rumah ALLAH – BaituLLAH yaitu  Mesjid, dengan melakukan ibadah mendekatkan diri kepada ALLAH dengan antara lain :  membaca Kitab Suci Al Quran, Sholat Malam, Sholat Tasbih yang dipimpin oleh Imam,  dan juga melakukan Muhasabah atau Evaluasi diri, tentunya dengan berpedoman kepada Keimanan sesuai tuntunan dari ALLAH dalam Kitab Suci AL Quran dan Hadist.    

Menurut Ustad Adi Hidayat dalam berbagai Tausiahnya di You Tube, ada baiknya kita juga berusaha memprogramkan untuk menghafal salah satu dari Surat dari Al Quran yang kita niatkan dengan beberapa ayat, karena Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran, sehingga dikala kita sedang melakukan Puasa serta Sholat Taraweh, serta Sholat malam, maka jika kita niatkan untuk menghafal salat satu atau 2 Surat dari Kitab Suci Al Quran, misalnya Surat Qadr yang merupakan Firman ALLAH yang menerangkan mengenai adanya Malam Lailatul Qadar,  maka Insya ALLAH, menurut Para Ustad Adi Hidayat, sesuai dengan Kibat Suci AL Quran,   kita akan dibantu ALLAH untuk dapat menghafal Surat Pendek dengan beberapa ayat, dalam Qalbu kita, mengingat kita sedang berusaha untuk benar-benar berusaha mendekatkan diri kepada ALLAH, dengan niat hanya karena ALLAH untuk mendapatkan Ridho ALLAH.    

Mengingat kita sebagai manusia penuh dengan kesalahan, maka kita harus mengevaluasi diri kita serta berusaha untuk bertobat dan mohon ampun kepada ALLAH,   dan berdoa dan memohon kepada ALLAH untuk memperteguh keimanan kita dalam Qalbu kita untuk dapat memperbaiki diri sebelum kita mati, mumpung Bulan Ramadhan yang penuh dengan Berkah dan Pengampunan dari ALLAH,  karena jika kita mati dalam keadaan jauh dari ALLAH, dan penuh bergelimpangan dengan dosa.  konskewensinya adalah sangat mengerikan dan sangat merugikan diri kita sendiri,  karena kita telah menzalimi diri kita dengan tidak mau mengingat ALLAH dalam kehidupan kita, sebagaimana kita dapat temukan peringatan tersebut oleh ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran.

Yang jelas Kematian adalah Kepastian, yang akan dialami oleh setiap Nafs sesuai dengan Firman ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran, namun kita sebagai manusia sama sekali tidak mengetahui : kapan dan dimana Nafs kita dicabut oleh Malaikat Pencabut Nyawa, sehingga kita harus kuatkan tekad kita, untuk mengadakan perubahan berhijrah atas diri kita untuk senantiasa berusaha mengingat ALLAH dimanapun kita berada. Semoga Puasa Bulan Ramadhan kita diterima oleh ALLAH Yang Maha Kuasa. Aamiin YRA. 

Demikianlah renungan mengenai Tema Mengevaluasi Diri.dikaitkan dengan Keimanan Islam….…dan kini kita telah memasuki bulan Syawal dimana kita sebagai Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan Puasa Sunah 6 Hari Syawal ….Semoga bisa kita laksanakan. Aammin YRA>

20 Juni 2018 atau Syawal 1639 Hijrah

Agung Supomo Suleiman

Blog Nikmatnya Iman

 

 

 

Iklan

12 Januari 2015

TAK MUDAH JADI BUSINESS LAWYER INDEPENDENT

Memang tak mudah jadi Business Lawyer Independent, apalagi Penulis sudah menginjak Umur 63 tahun lebih, dimana Penulis sebagai seorang muslim berada di perbatasan antara Dunia dan persiapan memikirkan  setelah kehidupan,  harus mikir dan persiapkan bekal bukan hanya hidup didunia,  tapi juga kehidupan Akhirat;

  • Sesuai Ayat Suci ALLAH

    di Kitab Suci Al Quran,   yang kita  harus  yakini tanpa ragu-ragu merupakan Ayat suci  ALLAH yang menyatakan kehidupan dunia ini hanyalah “cobaan dan ujian”  bagi setiap manusia guna berjuang agar tetap bertaqwa yaitu :

a) mengikuti perintah ALLAH dan b) menjauhkan segala larangan ALLAH yang tersebut di AL Quran serta Hadist Nabi Muhammad S.A.W. 

  • Di Kitab Suci Al Quran,  ALLAH berfirman bahwa Langit telah ditinggikan oleh ALLAH secara seimbang, yang dikaitkan dengan “keseimbangan Neraca” agar manusia bertindak Adil dalam melakukan timbangan didunia.
    • Setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban di AKHIRAT. Setelah Dunia dengan segala isinya dihancurkan oleh ALLAH, ALLAH akan bangkitkan kembali kita  untuk menghadapi Hari Pembalasan,   dimana setiap Insan diminta pertanggung jawaban kepada ALLAH atas segala yang dilakukan selama berada didunia ini.
  • Sebagai seorang Business Lawyer, dimana Penulis seringkali terlibat dalam negosiasi yang mewakili Klien dengan Mitra Partner, terasa sekali bahwa sebagai manusia atau suatu Subyek Hukum yang dibentuk dalam tatanan Kehidupan Business, Para Pihak masing-masing  senantiasa memikirkan dan membuat kiat dan strategi agapeta-1r kedudukan dan posisi hukum dalam kerjasama atau penjejakan business mereka,  mempunyai posisi yang kuat dalam memperoleh Hak dan Kewajiban atas  transaksi hubungan hukum mereka.

Jika konsep hukum mereka berdasarkan hukum  Barat baik Anglo Saxon mapun Hukum Kontinental Perancis yang juga diadopsi Belanda yang pernah diduduki Perancis, maka Kepastian Hukum lah yang diutamakan, dimana kalau Negara Anglo Saxon atau Common Law memastikan  segala Perjanjian mereka memuat hak- hak kepPENGERUK TAMBANGentingan mereka secara hukum dengan pasti.

  • Business Lawyer dari Inggris senantiasa menekankan jika terjadi “Dispute atau Perselisihan” atas pelaksanaan Kontrak, maka yang berlaku untuk “Kepastian Hukum” atauLaw Certainty ” adalah Perjanjian Tertulis yang telah ditandatangani oleh Para Pihak antara Para Pihak.

Sebagaimana kita ketahui Kedudukan dan Posisi masing-masing Pihak berbeda pada saat Perjanjian ditandatangani.  Lingkup dan suasana pada saat Perjanjian Jangka Panjang akan berbeda pada saat ditandatangani dengan pada saat masa berjalannya waktu pelaksanaan Perjanjian Jangka Panjang tersebut yang bisa berjangka waktu misalnya 15 Tahun bahkan 30 Tahun.

Tentunya keadaan dan suasana secara Ekonomi maupun Politik dari Suatu negara maupun Para Pihak yang terlibat bisa berbeda antara  pada saat Perjanjian dibuat dengan pada masa berjalannya waktu dari Perjanjian Jangka Panjang tersebut.

  • Penulis sebagai Business Lawyer banyak sekali mengalami dan mendapatkan pelajaran bahwa pada dasarnya manusia seringkali hanya memikirkan posisi kedudukan serta kekuatan serta kekuatan keuangan dan posisi business mereka dari pandangan dan kepentingan mereka sendiri.  Hal ini memang wajar, karena didalam  kehidupan dunia yang nyata atau “in the Real World” tidak ada yang gratis atau istilahnya “There Is No Free Lunch”.

Berdasarkan hal ini,  maka biasanya Para Pihak, mengingatkan dalam Pertambangan Perjanjiannya,  bahwa Para Pihak memasuki atau menjejaki suatu Kerjasama dalam Business dengan “Iktikad Baik” untuk membatasi Keinginan untuk saling menzalimi atau hanya Memperkuat Posisi Business mereka masing-masing,  tanpa memikirkan kedudukan dan pengorbanan dari Pihak Mitra Business mereka.

  • Dengan demikian Rambu atau Pagar Hukum dari Suatu Negara atau Suatu Hukum yang akan dipilih oleh Para Pihak akan menentukan “Governing Law”-nya khususnya jika terjadi perbedaan interpretasi atas pelaksanaan dari Perjanjian Business diantara  Para Pihak tersebut.

Karena Penulis merasa bahwa nantinya Penulis sebagai Business Lawyer akaDSC00719n diminta pertanggung- jawaban oleh ALLAH atas amanah atau rejeki Profesi yang diberikan oleh ALLAH selama berada didunia ini, tentunya Penulis  berusaha memagari bukan hanya oleh Hukum Dunia antara Para Pihak,  melainkan juga Hukum dari Kitab Suci Al Quran yang Penulis harus  yakini tanpa ragu-ragu  merupakan Hukum dari ALLAH yang harus Penulis perhatikan dan yakini akan dijadikan dasar untuk pribadi Penulis di hari Pembalasan atau Hari Pengadilan yang Pasti akan terjadi. 

Hal ini adalah karena ALLAH adalah Maha Benar dan Kitab Suci ALLAH harus Penulis yakini sebagai Firman dan Petunjuk dari ALLAH Yang Maha Benar, dimana Janji serta Perkataan ALLAH adalah Maha Benar, karena Informasi mengenai Kehidupan di Akhirat dan Kehidupan di AKHIRAT “tidak bisa” kita karang atau duga-duga,  melainkan “haruslah” berasal dari Informasi yang bisa kita Pegang Secara Teguh dan tidak akan Putus yaitu “Pedoman” dari ALLAH yang Menciptakan Kehidupan dunia ini termasuk Penciptaan dari Bumi dan Langit dengan segala isinya diantara Bumi dan Langit ini, yang diciptakan oleh ALLAH dan dimiliki oleh ALLAH Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia serta Maha Pencipta, dimana Janji ALLAH adalah Maha Benar dan ALLAH pasti  memegang dan menepati JANJIA NYA, karena ALLAH Janji dan perkatanNYA, adalah benar, tidak seperti kita manusia yang banyak diliputi kepentingan dan hawa nafsu.

  • Penulis merasakan dikala umur Penulis sudah lebih dari 63 Tahun, ini bahwa kita haruslah mempunyai Pegangan Yang Kuat atas sesuatu Kitab dan Informasi yang Pasti dan Tidak Meragukan, dimana yang menjadi Sensor alat PenangMerdekakap bukan hanya Akal melainkan “Qalbu” kita   sesuai dengan petunjuk yang diberikan ALLAH kepada kita di Kitab Suci AL Quran,  dimana peranan Qalbu selain Pendengaran dan Penglihatan adalah “sangat Penting”, karena akan berkaitan erat  dengan “Keimanan” atau “Faith” kita  kepada ALLAH yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta.

 

  • Jika kita tidak mau membuka Qalbu kita dengan mengkombinasikan dengan Akal kita serta pikiran kita, maka ALLAH akan ” Menutup” Qalbu kita sebagai akibat dari diri kita untuk senantiasa mengingkari akan kebenaran dari Ayat-2 ALLAH yang diturunkan oleh ALLAH melalui para Rasul utusan ALLAH, bahkan Qalbu kita akan ada “penyakit” dan akan ditambah penyakit Qalbu kita oleh ALLAH, jika kita sudah membaca me-yakini namun “kemudian kita ingkari” lagi Ayat2 Suci dari ALLAH tersebut.

Nah, ujian yang setiap manusia akan hadapi tentunya tidak akan jauh dari kehidupan dan pengalaman riil serta “Nyata” dari kehidupan setiap manusia tersebut yang telah diberikan kesempatan dan waktu yang sama yaitu 24 (Dua puluh Empat) Jam setiap hari untuk  menghadapi Ujian dan Cobaan kehidupan didunia ini, lepas dari apakah sang manusia tadi  mempercayai atau tidak mempercayai Ayat Suci ALLAH tersebut. pic3

  • Penulis sebagai Business Lawyer tentunya ujiannya adalah apakah Penulis sebagai Business Lawyer akan berbuat zalim dengan Ilmu Business Law yang Penulis diberikan kesempatan oleh ALLAH untuk mendalami dan mempraktekan didalam misi dan pilihan hidup sebagai Profesi Business Lawyer.

Setiap tindakan dan perilaku dari Penulis sebagai Business Lawyer termasuk tulisan di Blog Snapshot Artikel Business ini tentunya “dicatat” oleh Para Malaikat untuk dibawa ke langit tempat Buku Besar Penyimpanan Data yang akan diserahkan lagi kepada Penulis di Hari Kebangkitan nanti, untuk diminta pertanggung-jawabannya oleh ALLAH yang telah memberikan kehidupan dan rejeki karunia ilmu, akal, qalbu, kuping, mata penglihatan, badan, tangan, kaki serta jantung, paru dan semua badan phisik maupun emosional serta hati nurani kepada kita.

  • Menurut ALLAH kita masing-masing  sebagai manusia akan merasakan Kematian di dunia ini sekali saja, dimana setelah kita dibangkitkan di AKHIRAT oleh ALLAH, kita tidak akan merasakan lagi kematian,  karena kematian itu menurut ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran yang Penulis harus yakini hanyalah dialami oleh setiap manusia sekali saja didunia ini.   
  • JAKARTA  12 Januari 2014 diedit 14 Mei 2016
  • Agung Supomo Suleiman SH

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: